Seperti
telah diuangkapkan di muka, bahwa secara eksplisit tidak ditemukan
ayat al-Quran yang mengatur tentang wakaf, namun secara implisit cukup
banyak ayat-ayat yang bisa jadi dasar hukum tentang wakaf, yaitu
beberapa ayat tetang infak diantaranya :
1. Qur’an : al Hajj : 77
(يايها
الدين امنوا اركعوا واسجدوا) (اى ارجعوا من تكبر قيام الانسانية الى
توضع الحيوانية ودلة النباتية ( واعبدوا ربكم) بسائر ما كلفكم به
خالصا لوجهه (وافعلو الخير) واجبا ومندوبا واتوجهوا الى الله تعالى فى
جميع احوالكم (لعلكم تفلحون) اى لتضفروا بنعيم الجنة اىافعلوا هده
كلها وانتم راجعون بها الفلاح غير متيقنين[19]
Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.
2. Qur’an : al Baqarah : 261
(مثل
الدين ينفقون امولهم فى سبيل الله كمثل حبت انبتت سبع سنا بل ) اى سفة
صدقاة الدين ينفقون اموا لهم فى دين الله كصفة حبة اخرجت سبع سنا بل او
المعنى مثل الدين ينفقون اموالهم فى وجوه الخيرات من الوجب والنفل كمثل
زراع اخرجث ساقا تشعب منه سبع شعب فى كلى واحدة منها سنبلة (فى كلى سنبلة
مائة حبة ) كما يشاهد دلك فى الدرة والدخن بل فيهما اكثر من دلك (والله
يضعف ) فوق دلك (لمن يشاء ) على لايضيق عليه ما يتفضل به من التضعيف
(والله وا سع ) ائ لا يضيق عليه ما يتفضل به من التضعيف (عليم ) بنية
المنفق وبمن يستحق ىالمضاعفة[20]
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir: seratus biji.
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
3. Qur’an Ali Imran : 92
لن تنالوا الير حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيء فان الله به عليم
Kamu
sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
قال ابو حعفر يعنى بدلك جل ثناه : لن تدركو ايها المومنون
البر : وهو البر من الله الدى يطلبونه منه بطاعتهم اياه وعباد تهم له ويرجونه منه, ودلك تفضله عليهم بادخالهم جنة, وصرف عدابه عنهم.
حدثن ابو كريب قال: حدثن وكيع عن شريك عن ابى اسحاق عن عمرو بن ميمون في قوله : لن تنالوا البر, فل ألجنة.
قال ابو جعفر : فتاويل الكلام لن تنالوا ايها المومنون : جنة ربكم
حتى تنفقوا مما تحبون يقول : حتى تتصدقوا مما تحبون وهوون ان نكون لكم من نفيس اموالكم
Kutipan Al-Quran surat Ali Imran ayat 92 tersebut benar-benar
menyentuh. Ternyata menafkahkan harta yang kita cintai merupakan salah
satu jalan sekaligus syarat untuk menyempurnakan semua kebajikan lain
yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan. Bisa jadi seseorang telah
banyak berbuat baik. Tampaknya dengan menafkahkan sebagian hak milik
yang sangat dicintai untuk perjuangan di jalan Allah, barulah akan
sampai kepada kebajikan/keshalehan yang sempurna.
Sabab Nuzul ayat tersebutadalah, Seperti diterangkan dalam hadits Nabi
yang diriwayatkan oleh Imam Buchori, Muslim, Tarmidzi, dan An-Nasa’i,
yang diterima dari Anas bin Malik, Beliau menrangkan :
Abu Tholhah diantara salah seorang Sahabat Nabi yang paling banyak
memiliki kebun kurmanya di Madinah, salah satunya kebun kurma Bairuha,
kebun tersebut berhadapan dengan Masjid tempat Nabi sembahyang dan Nabi
sering keluar masuk memakan kurma tersebut dan meminum airnya yang
harum.
Ketika turun ayat tersebut (Ali Imran : 92) Tholhah langsung
mendatangi Rasull lalu ia berkata, :Ya Rasulullah, sesungguhnya kekayaan
yang sangat kucintai yaitu kebun kurma Bairuha, karena ada perintah dari Allah melalui ayat tadi, kusedekahkan bairuha ini kepadamu Ya Rasulullah.
Mendengar ucapan Abu Tholhah, Rasulullah berkata, wahai Tholhah sungguh
engkau beruntung, kebun kurma itu membawa keberuntungan, kalau begitu
alangkah baiknya disedekahkan kebun kurma itu kepada karib kerabatmu.
Timpal Abu Tholhah, ya Rasulullah akan kusedekahkan harta itu sesuai
dengan petunjukmu Ya Rasulullah.
Kemudian dalam Riwayat Abi Hatim dari Muhammad bin Al-Munkodir, beliau
berkata, bahwa ketika turun ayat Ali Imran ke 92, datang sahabat Zaid
bin Haritsyah membawa seekor kuda yang bernama Sibul, Zaid tidak memiliki lagi kekayaan lain selain kuda itu.
Beliau berkata, Ya Rasulullah saya datang akan menyerahkan kuda ini
untuk kepentingan agama, Rasull menjawab “Aku menerima sedekahmu” wahai
Zaid.
Selanjutnya oleh Rasulullah ditunggangkan diatas punggung kuda itu
Usamah bin Zaid anaknya Zaid, lantas Rasull melihat muka Zaid agak muram
masih merasa berat hati melepaskan kuda kesayangannya.
Namun Rasulullah melanjutkan perkataannya. Sesungguhnya Allah telah menerima sedekah engakau Zaid.
Pemahaman konteks atas ajaran wakaf juga diambilkan dari beberapa
hadits Nabi yang menyinggung masalah shadaqah jariyah, yaitu :
عن
ابى هريرة ان رسول الله صلى عليه و سلم قال : ادا مات ابن ادم انقطع عمله
الا من ثلث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعوله (رواه مسلم )
Dari
Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “Apabila anak
Adam (manusia meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga
perkara:
Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”. (HR. Muslim)
Penafsiran
shadaqah jariyah dalam hadits tersebut dikataakan asuk dalam
pemebahasan wakaf, seperti yang diuangkapkan seorang Imam
دكره باب الوقف لانه فسر العلماء الصدقة الجارية بالوقف
Hadit tersebut dikemukakan di dalam bab wakaf, karena para ulama menafsirkan shadaqah jariyah dengan wakaf[21].
Hadits
Nabi yang secara tegas menyinggung dianjurkannya ibadah wakaf, yaitu
perintah Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar :
عن
ابن عمر رضى الله عنهما ان عمر بن الخطاب اصاب ارضا بخيبر فئاتى النبي
صلى الله عليه وسلم يستئامره فيها فقال : يا رسول الله انى اصبت ارضا
بخيبر لم اصب مالا قط انفس عندى منه فما تئامرنى به قال : ان شئت حبست
اصلها فتصدقت بها عمر انه لا يباع ولا يوهب ولا يرث وتصدق بها فى الفقراء
وفى القربى وفى الرقاب وفى سبيل الله وابن السبيل والضيف لاجناح على من
وليها ان ياكل منها با المعرف ويطعم غير متمول (رواه مسلم )
Dari
Ibnu Umar ra. Berkata, bahwa sahabat Umar Ra. Memperoleh sebidang tanah
d Khaibar kemudian menghadap kepada Rasulullah untukm memohon petunjuk
Umar berkata : Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di
Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah
engkau perintahkan kepadaku ? Rasulullah menjawab: Bila kamu suka, kamu
tahan (pokoknya) ntanah itu, dan kamu sedekahkan (hasilnya). Kemudian
Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak
belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak
dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari
hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak
bermaksud menumpuk harta (HR. Muslim).
Pada sabda Nabi yang lainnya disebutkan :
عن
ابن عمر قال : قال عمر للنبي صلى الله عليه وسلم ان مائة سهم لى بخيبر لم
اصب مالا قط اعجب الي منها قد اردت ان اتصدق بها فقال النبي صلعم : احبس
اصلها وسبل ثمرتها (رواه ألبخارى و مسلم
Dari
Ibnu Umar, ia berkata : “Umar mengatakan kepada Nabi Saw, saya
mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat
harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin
menyedekahkannya. Nabi Saw mengatakan kepada Umar : Tahanlah (jangan
jual, hibahkan dan wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan buahnya
sedekah untuk sabilillah” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Bertitik tolak dari beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi yang
menyinggung tentang akaf tersebut nampak tidak terlalu tegas. Karena itu
sedikit sekali hukum-hukum wakaf yang diterapkan berdasarkan kedua
sumber tersebut. Sehingga ajaran wakaf ini diletakan pada wilayah yang
bersifat ijtihadi, bukan ta’abudi, khususnya yang berkaitan dengan aspek
pengelolaan, jenis wakaf, syarat, peruntukan dan lain-lain.
Meskipun demikian, ayat al-Quran dan Sunnah yang sedikit itu mampu
menjadi pedoman para ahli fikih Islam. Sejak masa Khulafaur Rasyidun
sampai sekarang, dalam membahas dan mengembangkan hukum-hukum wakaf
dengan menggunakan metode penggalian hukum (ijtihad) mereka. Sebab itu
sebagian besar hukum-hukum wakaf dalam Islam ditetapkan sebagai hasil
ijtihad, dengan menggunakan metode ijtihad seperti qiyas, maslahah
mursalah dan lain-lain.
Oleh karenanya, ketika suatu hukum (ajaran) Islam yang masuk dalam
wilayah ijtihadi, maka hal tersebut menjadi sangat fleksibel, terbuka
terhadap penafsiran-penafsiran baru, dinamis, fururistik dan
berorientasi pada masa depan. Sehingga dengan demikian, ditinjau dari
aspek ajaran saja, wakaf merupakan sebuah potensi yang cukup besar untuk
bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Apalagi ajaran wakaf
ini termasuk bagian dari muamalah yang memiliki jangkauan yang sangat
luas, khususnya dalam pengembangan ekonomi lemah.
Memang, bila ditijau dari kekuatan sandaan hukum yang dimiliki, ajaran
wakaf merupakan ajaran yang bersifrat anjuran (sunnah), namun kekuatan
yang dimiliki sesungguhnya begitu besar sebagai tonggak menjalankan roda
kesejahteraan masyarakat banyak. Sehingga dengan demikian, ajaran wakaf
yang masuk dalam wilayah ijtihadi, dengan sendirinya menjadi pendukung
non manajerial yang bisa dikembangkan pengelolaannya secara optimal.
